SEBUAH PENANTIAN PANJANG
Di luar, hujan rintik-rintik itu
telah datang dengan angin yang tengah menyapa dedaunan dan burung-burung di
udara. Sebagian angin nakal itu masuk ke jendela kamarku begitu kencang,
sehingga membuat gordeng jendela dan buku-buku di meja berantakan. Aku pun segera menghampiri untuk
membetulkannya.
“Hmmmmm,
ini hari minggu tapi saying cuacanya tidak mendukung untuk beraktifitas”
gerutuku dalam hati ketika di depan jendela.
Aku pun memutuskan sejenak untuk
duduk di depan jendela sambil memasang dua tangan untuk menahan wajahku, ku
lihat di luaran dedaunan yang telah di sapa angin itu kini telah berserakan
ditanah dan burung- burung pun sekarang telah kembali hinggap di pohon
kesayangannya dengan ceria dan mengeluarkan suara siulan merdunya.
Hembusan angin nakal yang masih
tersisa itu kini menyapaku secara langsung, membuat sebagian rambutku yang
tergerai menjadi berantakan.
Ku usapkan tanganku untuk
membereskan rambutku yang berantakan dengan mata yang masih tertuju ke arah
luar yang jauh entah ke mana. Ya, hembusan angin itu membuat suasana lamunanku
melayang entah ke mana. Ingatanku jauh menerawang mengingat saat aku berjumpa
untuk pertama kalinya dengan seorang laki- laki yang sekarang sangat aku
rindukan, dia adalah Raka Adriana.
Karena sudah beberapa tahun ini
aku tidak pernah bertemu dengannya, tiga tahun yang lalu saat aku masih duduk
dibangku kelas 2 SMA RAka merupakan murid pindahan dari Bandung dan pada saat
itu, dia ditempatkan di kelasku. Mungkin ini suatu kebetulan, awalnya aku risih
dengan kelakuannya itu yang tidak bias diam, dia selalu membuat kelas menjadi
ramai seperti pasar dadakan sedangkan aku orangnya pendiam.
Huuuhhh memang jauh berbeda,
seperti langit dan bumi sifatnya bertolak belakang engan diriku. Tapi dengan
seiring berjalannya waktu, tanpa ku sadari aku menjadi akrab dengan Raka.
Teman- teman di kelas juga menjadi kebingungan dengan persahabatan kami karena
aku dan Raka sering bertengkar, sampai- sampai teman sebangku ku pun keheranan.
“Raaa….
Sekarang kamu deket banget sama Raka, jangan- jangan kamu suka yaa?” selidik
kinan kepada ku.
“Aiiiissshhh….
Apaan sih kamu, denger ya Kinan cantik aku sama Raka itu gak ada hubungan
apa-apa, inget Cuma temen gak lebih ya!” jawabku tegas.
“Ohh..
jadi Cuma sahabat nihh.” balas Kinan sambil tersenyum bahagia.
“iyaa..,
nah kamu kenapa senyam- senyum kaya gitu? Kamu suka ya sama Raka?” tanyaku tak
mau kalah.
“Nnnggakkk…”
jawab Kinan dengan cepat kilat.
“Udahlah
jujur aja, jangan boong nan”
“Iya,
iya … jujur aku suka sama dia” jawab kinan lagi
“Hahahaha..
ketauan yaa..” sambil tertawa melihat ekspresi muka kinan yang memerah.
Pertanyaan bodoh itu memang sudah
tidak asing lagi bagiku, karena mereka memang sering bertaya seperti itu. Tapi
ku jawab saja aku hanya bersahabat dengan Raka tidak lebih. Sampai pada hari
kelulusan tiba, aku melihat Raka begitu rapih sekali memakai jas hitam
kelulusannya. Rasanya aneh saat aku melihat Raka waktu itu, ada sesuatu yang
ingin aku ungkapkan kepadanya tapi aku tidak tau apa yang harus aku ungkapkan.
“
Rakaaaa…..” teriak ku dari keramaian.
“ Hai, ra….. penampilan kamu beda banget loh”
sambil tersenyum kepadaku.
“
Hahahaha masa? Perasaan biaa aja, Cuma bedanya sekarang aku pake baju kebaya
aja. Eh iya kamu juga hari ini beda banget loh, kerenn” jawabku sambil
tersenyum lepas.
“
Iya dong, inikan hari kelulusan kita, jadi harus tampil beda dong” jawab Raka
tak mau kalah dari ku.
“
Nanti kamu kan mau kuliah di Bandung tuh, kapan- kapan kamu main ya ke
Pandeglang” pintaku berharap penuh.
“iyaa,
nanti aku usahain deh, tenang aja…” jawab Raka menenangkan ku.
Mengigat itu semmua, membuatku
tersenyum simpul mengingat hari- hariku dulu semasa SMA dan kenangan akan
sahabatku. Setelah hari pelulusan itu, aku tidak pernah bertemu dengan Raka
lagi. Aku tidak pernah tau bagaimana kabarnya di Bandung? , bagaimana kuliahnya
di sana? Apa baik- baik saja? Entahlah, saat ini aku kehilangan kontak
dengannya.
Pikiranku berkecambuk dalam hati
mengingat Raka yang tidak pernah memberi kabar kepada ku. Tiba- tiba ada suara
memanggilku, membuat lamunanku buyar di buatnya
“
Nairaaa….” panggil ibu kepadaku.
“
Iya bu, ada apa?” jawabku setengah berteriak dari rasa kekagetan ini.
“
Nai, tolong beliin obat flu ke apotek!” sembari memberikan uang kepadaku.
“
Iya” jawabku singkat.
Di jalan ketika sudah membeli
obat di apotek, aku memutuskan untuk mampir sebentar ke sebuah bukit yang tidak
jauh dari rumahku. Di sana aku duduk di bawah pohon rindang, aku menikmati
setiap suasana- suasana yang jaranga aku jumpai saat ini. Karena terlalu sibuk,
aku aku sampai lupa dengan tempat ini.
Sebelum kuliah dulu, aku dan Raka
sering ke tempat ini untuk bersantai sehabis pulang sekolah. Terdengar sayup-
sayup suara langkah kaki menuju tempat dudukku, mungkin dia hanya lewat saja
tapi ku dengar langkah kaki itu semakin jelas dan berhenti di belakangku.
Ku tolehkan kepalaku untuk
melihat siapa orang yang berdiri di belakangku itu, ku pandangi wajahnya lekat-
lekat terlihat sama- samar karena
pantulan cahaya yang dating menerobos wajahnya yang penuh dengan keringat yang bercucuran di pelipis wajahnya yang
mungil itu. Ku kernyitkan kedua alisku, semakin lama raut wajah itu semakin
jelas.
Raka, tiba- tiba saja nama itu
keluar dari mulutku.
“
Hey raa, apa kabar?” pertanyaan pertama yang dilontarkan nya sontak membuatku
kaget.
“
Hey….. ka.. mmm aku baik, kamu
Kok
bias ada disini sih ? Kenapa gak bilang- bilang sih ?” pertanyaan itu tanpa ku
sadari keluar begitu saja.
“
Emang aku gak boleh datang ya?” jawab Raka singkat.
“
Ihhh, kamu…” jawabku sambil memalingkan
wajah ke langit luas.
Pada akhirnya mereka pun
melepaskan kerinduan yang selama ini di rindukannya dengan mengobrol- ngobrol,
sampai mereka merasakan kebahagiaan yang begitu mendalam.
J