Sabtu, 06 Juni 2015

cerpen remaja tentang penantian




SEBUAH PENANTIAN PANJANG

Di luar, hujan rintik-rintik itu telah datang dengan angin yang tengah menyapa dedaunan dan burung-burung di udara. Sebagian angin nakal itu masuk ke jendela kamarku begitu kencang, sehingga membuat gordeng jendela dan buku-buku di meja  berantakan. Aku pun segera menghampiri untuk membetulkannya.
“Hmmmmm, ini hari minggu tapi saying cuacanya tidak mendukung untuk beraktifitas” gerutuku dalam hati ketika di depan jendela.
Aku pun memutuskan sejenak untuk duduk di depan jendela sambil memasang dua tangan untuk menahan wajahku, ku lihat di luaran dedaunan yang telah di sapa angin itu kini telah berserakan ditanah dan burung- burung pun sekarang telah kembali hinggap di pohon kesayangannya dengan ceria dan mengeluarkan suara siulan merdunya.
Hembusan angin nakal yang masih tersisa itu kini menyapaku secara langsung, membuat sebagian rambutku yang tergerai menjadi berantakan.
Ku usapkan tanganku untuk membereskan rambutku yang berantakan dengan mata yang masih tertuju ke arah luar yang jauh entah ke mana. Ya, hembusan angin itu membuat suasana lamunanku melayang entah ke mana. Ingatanku jauh menerawang mengingat saat aku berjumpa untuk pertama kalinya dengan seorang laki- laki yang sekarang sangat aku rindukan, dia adalah Raka Adriana.
Karena sudah beberapa tahun ini aku tidak pernah bertemu dengannya, tiga tahun yang lalu saat aku masih duduk dibangku kelas 2 SMA RAka merupakan murid pindahan dari Bandung dan pada saat itu, dia ditempatkan di kelasku. Mungkin ini suatu kebetulan, awalnya aku risih dengan kelakuannya itu yang tidak bias diam, dia selalu membuat kelas menjadi ramai seperti pasar dadakan sedangkan aku orangnya pendiam.
Huuuhhh memang jauh berbeda, seperti langit dan bumi sifatnya bertolak belakang engan diriku. Tapi dengan seiring berjalannya waktu, tanpa ku sadari aku menjadi akrab dengan Raka. Teman- teman di kelas juga menjadi kebingungan dengan persahabatan kami karena aku dan Raka sering bertengkar, sampai- sampai teman sebangku ku pun keheranan.
“Raaa…. Sekarang kamu deket banget sama Raka, jangan- jangan kamu suka yaa?” selidik kinan kepada ku.
“Aiiiissshhh…. Apaan sih kamu, denger ya Kinan cantik aku sama Raka itu gak ada hubungan apa-apa, inget Cuma temen gak lebih ya!” jawabku tegas.
“Ohh.. jadi Cuma sahabat nihh.” balas Kinan sambil tersenyum bahagia.
“iyaa.., nah kamu kenapa senyam- senyum kaya gitu? Kamu suka ya sama Raka?” tanyaku tak mau kalah.
“Nnnggakkk…” jawab Kinan dengan cepat kilat.
“Udahlah jujur aja, jangan boong nan”
“Iya, iya … jujur aku suka sama dia” jawab kinan lagi
“Hahahaha.. ketauan yaa..” sambil tertawa melihat ekspresi muka kinan yang memerah.
Pertanyaan bodoh itu memang sudah tidak asing lagi bagiku, karena mereka memang sering bertaya seperti itu. Tapi ku jawab saja aku hanya bersahabat dengan Raka tidak lebih. Sampai pada hari kelulusan tiba, aku melihat Raka begitu rapih sekali memakai jas hitam kelulusannya. Rasanya aneh saat aku melihat Raka waktu itu, ada sesuatu yang ingin aku ungkapkan kepadanya tapi aku tidak tau apa yang harus aku ungkapkan.
“ Rakaaaa…..” teriak ku dari keramaian.
  Hai, ra….. penampilan kamu beda banget loh” sambil tersenyum kepadaku.
“ Hahahaha masa? Perasaan biaa aja, Cuma bedanya sekarang aku pake baju kebaya aja. Eh iya kamu juga hari ini beda banget loh, kerenn” jawabku sambil tersenyum lepas.
“ Iya dong, inikan hari kelulusan kita, jadi harus tampil beda dong” jawab Raka tak mau kalah dari ku.
“ Nanti kamu kan mau kuliah di Bandung tuh, kapan- kapan kamu main ya ke Pandeglang”  pintaku berharap penuh.
“iyaa, nanti aku usahain deh, tenang aja…” jawab Raka menenangkan ku.
Mengigat itu semmua, membuatku tersenyum simpul mengingat hari- hariku dulu semasa SMA dan kenangan akan sahabatku. Setelah hari pelulusan itu, aku tidak pernah bertemu dengan Raka lagi. Aku tidak pernah tau bagaimana kabarnya di Bandung? , bagaimana kuliahnya di sana? Apa baik- baik saja? Entahlah, saat ini aku kehilangan kontak dengannya.
Pikiranku berkecambuk dalam hati mengingat Raka yang tidak pernah memberi kabar kepada ku. Tiba- tiba ada suara memanggilku, membuat lamunanku buyar di buatnya
“ Nairaaa….” panggil ibu kepadaku.
“ Iya bu, ada apa?” jawabku setengah berteriak dari rasa kekagetan ini.
“ Nai, tolong beliin obat flu ke apotek!” sembari memberikan uang kepadaku.
“ Iya” jawabku singkat.
Di jalan ketika sudah membeli obat di apotek, aku memutuskan untuk mampir sebentar ke sebuah bukit yang tidak jauh dari rumahku. Di sana aku duduk di bawah pohon rindang, aku menikmati setiap suasana- suasana yang jaranga aku jumpai saat ini. Karena terlalu sibuk, aku aku sampai lupa dengan tempat ini.
Sebelum kuliah dulu, aku dan Raka sering ke tempat ini untuk bersantai sehabis pulang sekolah. Terdengar sayup- sayup suara langkah kaki menuju tempat dudukku, mungkin dia hanya lewat saja tapi ku dengar langkah kaki itu semakin jelas dan berhenti di belakangku.
Ku tolehkan kepalaku untuk melihat siapa orang yang berdiri di belakangku itu, ku pandangi wajahnya lekat- lekat terlihat sama- samar  karena pantulan cahaya yang dating menerobos wajahnya yang penuh dengan keringat  yang bercucuran di pelipis wajahnya yang mungil itu. Ku kernyitkan kedua alisku, semakin lama raut wajah itu semakin jelas.
Raka, tiba- tiba saja nama itu keluar dari mulutku.
“ Hey raa, apa kabar?” pertanyaan pertama yang dilontarkan nya sontak membuatku kaget.
“ Hey….. ka.. mmm aku baik, kamu
Kok bias ada disini sih ? Kenapa gak bilang- bilang sih ?” pertanyaan itu tanpa ku sadari keluar begitu saja.
“ Emang aku gak boleh datang ya?” jawab Raka singkat.
“ Ihhh,  kamu…” jawabku sambil memalingkan wajah ke langit luas.
Pada akhirnya mereka pun melepaskan kerinduan yang selama ini di rindukannya dengan mengobrol- ngobrol, sampai mereka merasakan kebahagiaan yang begitu mendalam.






J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar