Recycle
Base Industry: Recycle
Baja Bekas Scrap Agar Sektor Industri Dapat Segera Tumbuh dan Menggerakan Perekonomian.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pasokan bahan baku baja yang
menipis dan tingginya harga telah menghancurkan ratusan industri kecil
pengecoran di Ceper dan sekitarnya. Bahan baku skrap besi dan baja yang
jumlahnya lumayan banyak, tidak bisa digunakan begitu saja karena kandungan
pengotor yang ada di dalamnya. Pengotor ini akan menurunkan kualitas produk
akhir. Sementara itu, teknologi pemurnian juga masih belum dikembangkan. Jika
teknologi ini dapat dikuasi, permasalahan yang dihadapi industri pengecoran
dapat diselesaikan. Teknologi ini juga dapat diaplikasikan untuk membersihkan
unsur-unsur yang tidak diinginkan pada proses pengolahan baja dari bijih besi
lokal. Tidak hanya itu, teknologi ini juga dapat memecahkan permasalahan
pemurnian skrap baja di dunia.
Banyaknya penggunaan baja dalam kehidupan sehari-hari baik itu dalam
rumah tangga maupun industri akan membuat limbah baja semakin menumpukmdan
tidak bisa digunakan. Jika hal ini tidak di tangani dengan cepat maka limbah
ini akan memberikan dampak yang buruk bagi lingkungan, limbah baja bekas dapat
mencemari tanah dan juga air. Oleh karena itu perlu dilakukan daur ulang
(recycle) dari limbah baja bekas scrap,
hasilnya dapat digunakan kembali seperti utuh dalam pembuatan material teknik
dan dapat memenuhi keperluan baja diindonesia, sehingga tidak perlu melakukan
impor baja dari luar negeri.
Daur ulang adalah proses untuk menjadikan suatu bahan bekas menjadi
bahan baru dengan tujuan mencegah adanya sampah yang sebenarnya dapat menjadi
sesuatu yang berguna, mengurangi penggunaan bahan baku yang baru, mengurangi
penggunaan energi, mengurangi polusi, kerusakan lahan, dan emisi gas rumah kaca
jika dibandingkan dengan proses pembuatan barang baru. Daur ulang adalah salah
satu strategi pengelolaan sampah padat yang terdiri atas kegiatan pemilahan,
pengumpulan, pemrosesan, pendistribusian dan pembuatan produk/material bekas
pakai, dan komponen utama dalam manajemen sampah modern dan bagian ketiga adalam
proses hierarki sampah 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle). Salah satu cara daur
ulang adalah dengan proses pemurnian baja bekas. Mekanisme
pengeliminasian pengotor dari skrap cair dengan kombinasi metoda bubbling dan
compound separation.
1.2 Perumusan
Masalah
Perumusan masalah adalah hal-hal yang menyangkut masalah pada pembahasan
Laporan Penelitian terhadap Recycle Base
Industry: Recycle Baja Bekas Scrap Agar
Sektor Industri Dapat Segera Tumbuh dan Menggerakan Perekonomian.
Perumusan masalah terhadap recycle baja bekas scrap dengan
cara pemurian baja bekas dengan kombinasi dua metode metoda
bubbling dan compound separation.
1.3 Pembatasan
Masalah
Pembatasan masalah merupakan batasan-batasan yang membatasi topik
permasalahan agar tidak menyimpang dari pokok bahasan. Berikut ini adalah
pembatasan masalah yang ada ialah tidak menjauh dari persoalan terhadap baja
bekas scrap, daur ulang, limbah,dan
metoda bubbling dan compound separation.
1.4 Tujuan
Penulisan
Tujuan penulisan merupakan hal-hal yang menjadi tujuan dalam penulisan Laporan
penelitian ini. Tujuan dari Laporan ini diantaranya sebagai berikut.
1. Mengetahui akibat limbah yang dihasilkan baja bekas
2. Mengetahui cara daur ulang baja bekas scrap dengan cara pemurnian baja untuk
mengurangi krisis pasokan baja di Indonesia.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1
Klasifikasi Bahan
Bahan alam merupakan bahan baku
prorduk yang diperoleh dan digunakan secara langsung dari bahan alam, oleh
karena itu produk akhir yang menggunakan bahan baku ini akan memiliki sifat
yang sama dengan bahan asalnya, yang termasuk dalam kelompok
ini antara lain kayu, batu, karet, kulit, keramik, Celulosa dan lain-lain.
Bahan-Bahan Tiruan (Syntetic Materials)
Bahan-bahan tiruan (syntetic
materials) biasanya diperoleh dari senyawa kimia dengan komposisi berbagai
unsur akan diperoleh suatu sifat tertentu secara spesifik atau sifat yang
menyerupai sifat bahan alam.
Macam-Macam Bahan Logam
(Materials Metals)

Bahan-bahan Logam yang
digunakan secara umum
1.
Besi (Iron)
Besi kasar yang diperoleh melalui
pencairan didalam dapur tinggi dituangkan kedalam cetakan yang berbentuk
setengah bulan dan diperdagangkan secara luas untuk dicor ulang
pada cetakan pasir yang disebut sebagai “Cast Iron” (besi
tuang) sebagai bahan baku produk, dimana besi tuang akan
diproses menjadi baja pada dapur-dapur baja yang akan
menghasilkan berbagai jenis baja.
2.
Tembaga (Copper)
Tembaga murni digunakan secara
luas pada industri perlistrikan, dimana salah satu sifat yang baik dari
Tembaga (Copper).
3.
Timah hitam atau Timbal (Lead) Timah
hitam atau Timbal (Lead) memiliki ketahanan terhadap serangan bahan kimia
terutama larutan asam sehingga cocok digunakan pada Industri Kimia.
4.
Seng (Zinc) Seng
(Zinc) dipadukan dengan tembaga akan menghasilkan kuningan (Brass).
5.
Aluminium (Aluminium) Paduan
Alumunium (Aluminium Alloy) digunakan sebagai peralatan aircraft,
automobiles serta peralatan teknik secara luas karena sifatnya yang kuat
dan ringan.
6.
Nickel dan Chromium (Nickel and
Chromium) Nickel dan Chromium (Nickel and Chromium) digunakan secara
luas sebagai paduan dengan baja untuk memperoleh sifat khusus juga
digunakan sebagai lapisan pada berbagai logam.
7.
Titanium
(Ti) logam dengan warna putih kelabu
dengan kekuatan setara baja dan stabil hingga temperature
4000C memiliki berat jenis 4,5 kg/dm3.
2.2.
Limbah Industri
Limbah adalah buangan yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat
tertentu tidak dikehendaki lingkungannya karena tidak mempunyai nilai ekonomi. Limbah merupakan buangan yang dihasilkan dari
suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Limbah
mengandung bahan pencemar yang bersifat racun dan bahaya. Limbah ini dikenal
dengan limbah B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya). Bahan ini dirumuskan sebagai
bahan dalam jumlah relatif sedikit tapi mempunyai potensi mencemarkan atau merusakkan lingkungan kehidupan dan sumber daya.
Melihat pada sifat-sifat limbah, karakteristik dan akibat yang ditimbulkan pada masa sekarang maupun
pada masa yang akan datang diperlukan langkah pencegahan, penanggulangan dan
pengelolaan.
Karakteristik
Limbah
1. Berukuran mikro
2. Dinamis
3. Berdampak luas (penyebarannya)
4. Berdampak jangka panjang (antargenerasi)
2.2.1
Jenis-Jenis Limbah Industri
Menurut sifat dan bawaan limbah mempunyai karakteristik baik fisika, kimia maupun biologi. Limbah air memiliki ketiga karakteristik ini, sedangkan
limbah gas yang sering dinilai berdasarkan satu karakteristik saja seperti
halnya limbah padat. Berbeda dengan limbah padat yang menjadi penilaian adalah
karakteristik fisikanya, sedangkan karakteristik kimia dan biologi mendapat
penilaian dari sudut akibat. Limbah padat dilihat dari akibat kualitatif
sedangkan limbah air dan limbah gas dilihat dari sudut kualitatif maupun
kuantitatif.
1. Limbah Cair
Limbah cair bersumber dari pabrik yang biasanya banyak
menggunakan air dalam sistem prosesnya. Di samping itu ada pula bahan baku
mengandung air sehingga dalam proses pengolahannya air harus dibuang.
2. Limbah Gas dan Partikel
Udara adalah media pencemar untuk limbah gas. Limbah gas
atau asap yang diproduksi pabrik keluar bersamaan dengan udara.
Secara alamiah udara mengandung unsur kimia seperti O2, N2,
NO2, CO2, H2 dan
Jain-lain. Penambahan gas ke dalam udara melampaui kandungan alami akibat
kegiatan manusia akan menurunkan kualitas udara.
3. Limbah Padat
Limbah padat adalah hasil buangan industri berupa
padatan, lumpur, bubur yang berasal dari sisa proses pengolahan. Limbah ini
dapat dikategorikan menjadi dua bagian, yaitu limbah padat yaitu dapat didaur
ulang, seperti plastik, tekstil, potongan logam dan kedua limbah padat yang
tidak punya nilai ekonomis.
Bagi limbah padat yang tidak punya nilai ekonomis
dapat ditangani dengan berbagai cara antara lain ditimbun pada suatu tempat,
diolah kembali kemudian dibuang dan dibakar.
2.2.2
Dampak Limbah Industri
1.
Limbah Industri Pangan
Sektor Industri/usaha kecil pangan yang mencemari lingkungan antara lain
; tahu, tempe, tapioka dan pengolahan ikan (industri hasil laut). Limbah usaha
kecil pangan dapat menimbulkan masalah dalam penanganannya karena mengandung
sejumlah besar karbohidrat, protein, lemak , garam-garam, mineral, dan sisa-sisa
bahan kimia yang digunakan dalam pengolahan dan pembersihan.
2.
Limbah Industri Kimia & Bahan Banguna
Industri ini mempunyai limbah cair selain dari proses produksinya juga,
air sisa pencucian peralatan, limbah padat berupa onggokan hasil perasan, endapan
Ca SO4, gas berupauap alkohol. kategori limbah industri ini adalah limbah bahan
beracun berbahayan (B3) yang mencemari air dan udara..
3.
Limbah Industri Sandang Kulit & Aneka
Sektor sandang dan kulit seperti pencucian batik, batik printing,
penyamakan kuit dapat mengakibatkan pencemaran karena dalam proses pencucian
memerlukan air sebagai mediumnya dalam jumlah yang besar. Proses ini
menimbulkan air buangan (bekas Proses) yang besar pula, dimana air buangan
mengandung sisa-sisa warna, BOD tinggi, kadar minyak tinggi dan beracun
(mengandung limbah B3 yang tinggi).
4.
Limbah Industri Logam & Ekektronika.
Sebagian besar bahan pencemarannya berupa debu, asap dan gas yang
mengotori udara sekitarnya. Selain pencemaran udara oleh bahan buangan,
kebisingan yang ditimbulkan mesin dalam industri baja (logam) mengganggu
ketenangan sekitarnya. kadar bahan pencemar yang tinggi dan tingkat kebisingan
yang berlebihan dapat mengganggu kesehatan manusia baik yang bekerja dalam
pabrik maupun masyarakat sekitar.
2.3.
Daur Ulang
Daur
ulang adalah proses untuk menjadikan suatu bahan bekas menjadi bahan baru
dengan tujuan mencegah adanya sampah yang sebenarnya dapat menjadi sesuatu
yang berguna, mengurangi penggunaan bahan baku yang baru, mengurangi penggunaan
energi, mengurangi polusi, Kerusakan Lahan, dan emisi gas jika dibandingkan dengan proses pembuatan barang baru.
Daur ulang adalah salah satu strategi pengelolaan sampah padat yang
terdiri atas kegiatan pemilahan, pengumpulan, pemprosesan, pendistribusian dan
pembuatan produk/material bekas pakai, dan komponen utama dalam manajemen
sampah modern dan bagian ketiga dalam proses sampah 4R (Reduce, Reuse,Recycle, and
Replace).
2.3.1
Jenis-Jenis Daur Ulang
Bahan bangunan, Material bangunan bekas yang
telah dikumpulkan dihancurkan dengan mesin penghancur, kadang-kadang
bersamaan dengan aspal, batu bata, tanah, dan batu. Hasil
yang lebih kasar bisa dipakai menjadi pelapis jalan semacam aspal dan hasil
yang lebih halus bisa dipakai untuk membuat bahan bangunan baru semacam bata.
Baterai, Banyaknya
variasi dan ukuran baterai membuat proses daur ulang bahan ini relatif sulit.
Mereka harus disortir terlebih dahulu, dan tiap jenis memiliki perhatian khusus
dalam pemprosesannya. Misalnya, baterai jenis lama masih
mengandung merkuri dan kadmium, harus ditangani secara lebih
serius demi mencegah kerusakan lingkungan dan kesehatan manusia.
Baterai mobil umumnya jauh lebih mudah
dan lebih murah untuk didaur ulang.
Barang Elektronik, Barang
elektronik yang populer seperti komputer dan telepon genggam umumnya tidak
didaur ulang karena belum jelas perhitungan manfaat ekonominya. Material yang
dapat didaur ulang dari barang elektronik misalnya adalah logam yang terdapat
pada barang elektronik tersebut (emas, besi, baja, silikon, dll)
ataupun bagian-bagian yang masih dapat dipakai (microchip, processor, kabel, resistor, plastik,
dll). Namun tujuan utama dari proses daur ulang, yaitu kelestarian lingkungan,
sudah jelas dapat menjadi tujuan diterapkannya proses daur ulang pada bahan ini
meski manfaat ekonominya masih belum jelas.
Logam, Besi dan baja adalah
jenis logam yang paling banyak didaur ulang di dunia. Termasuk salah satu yang
termudah karena mereka dapat dipisahkan dari sampah lainnya dengan magnet.
Daur ulang meliputi proses logam pada umumnya; peleburan dan pencetakan
kembali. Hasil yang didapat tidak mengurangi kualitas logam tersebut. Contoh
lainnya adalah aluminium, yang merupakan bahan daur ulang paling efisien di
dunia. Namun pada umumnya, semua jenis logam dapat didaur ulang tanpa
mengurangi kualitas logam tersebut, menjadikan logam sebagai bahan yang dapat
didaur ulang dengan tidak terbatas.
Yang
paling penting, semua orang dapat berpartisipasi dalam proses daur ulang.
Paling tidak pada dua tahap (proses) awal daur ulang yakni mengumpulkan dan memilah
sampah yang dapat dilakukan setiap saat.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1
Studi Kasus
Pemerintah sedang berupaya
menyelesaikan berbagai persoalan yang kerap melilit industri dalam negeri.
Upaya tersebut penting lantaran industri berperan besar mengembangkan
perekonomian masyarakat melalui penanaman investasi dalam negeri. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin
Nasution mengatakan, pemerintah saat ini berkewajiban menjadi pemecah
masalah bagi persoalan yang mengganjal industri di lapangan. Solusi yang
dibutuhkan sampai ke level operasional agar sektor industri dapat segera tumbuh
dan menggerakan perekonomian.
Darmin
mengatakan, pemerintah menaruh perhatian pada seluruh industri. "Baik
manufaktur, farmasi dan kesehatan, pertambangan, pertanian. Kami sudah ada
konsep pengembangannya, tapi kita perlu lebih tajam menyusun rencana yang lebih
operasional," katanya dalam keterangan resminya, Senin (29/8).
Sementara itu, Menteri
Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan, setidaknya terdapat
empat permasalahan yang kerap dihadapi oleh industri dalam negeri. Salah
satunya yaitu hambatan-hambatan sektoral. "Misalnya recycle base industry, salah satunya industri baja yang
bahan bakunya scrap, bagaimana agar
hambatanitu dimudahkan. Terutama masalah lingkungan. Demikian juga dengan
industri kertas," ujarnya.
Krisis
baja yang sedang kita “nikmati” bakal bertahan lama. Pasalnya, China masih
terus menyedot bahan baku baja dunia untuk keperluan pembangunan industri dalam
negeri dan industri otomotifnya dengan total konsumsi 350 juta ton per tahun
atau sekitar sepertiga dari total konsumsi baja di dunia. Indonesia, yang hanya
mengkonsumsi 6 juta ton per tahunnya, harus menghadapi kenyataan ini, bersaing
mendapatkan “jatah” pellet dan skrap impor dari negara-negara.
Indonesia yang masih tidak mampu
dan tidak mau mengolah tambang-tambang bijih besinya yang berjumlah milyaran
ton, harus mengikhlaskan tambang-tambang tersebut dikuasai oleh eksportir asing
dari China dan lain-lainnya dengan iming-iming harga yang menggiurkan kepada
penguasa di daerah-daerah. Dilain pihak, Uni Eropa telah menetapkan pelarangan
impor mobil di tahun 2015 pada industri yang tidak menerapkan sistem daur ulang
pada keseluruhan proses produksinya. Hal itu dilakukan untuk membendung masuknya
kendaraan bermotor dari negara pesaingnya (Jepang, China, Amerika, dan
lain-lain).
Kebijakan strategis ini akan
segera diikuti oleh Jepang dalam memenangkan persaingan global. Oleh karenanya,
Jepang mau tidak mau harus melakukan daur ulang skrap baja (baja bekas) dari
industri otomotifnya dan diprediksi di tahun 2050 Jepang sudah dapat melakukan
daur ulang sempurna skrap bajanya sehingga tidak memerlukan bahan baku baja
lagi. Pengembangan teknologi pemurnian skrap baja akan segera mendapat prioritas
utama dalam menyongsong persaingan global di dunia.
Lain
halnya dengan Indonesia, kondisi industri berbasis baja dan besi cor semakin
menyedihkan. Pasokan bahan baku baja yang menipis dan tingginya harga telah
menghancurkan ratusan industri kecil pengecoran di Ceper dan sekitarnya. Bahan
baku skrap besi dan baja yang jumlahnya lumayan banyak, tidak bisa digunakan
begitu saja karena kandungan pengotor yang ada di dalamnya. Pengotor ini akan
menurunkan kualitas produk akhir. Sementara itu, teknologi pemurnian juga masih
belum dikembangkan. Jika teknologi ini dapat dikuasi, permasalahan yang
dihadapi industri pengecoran dapat diselesaikan. Teknologi ini juga dapat
diaplikasikan untuk membersihkan unsur-unsur yang tidak diinginkan pada proses
pengolahan baja dari bijih besi lokal. Tidak hanya itu, teknologi ini juga
dapat memecahkan permasalahan pemurnian skrap baja di dunia, dan juga mampu
mengurangi limbah baja bekas yang berserakan yang akan mengakibatkan dampak
pada tanah dan air, sedangkan limbah baja bekas memiliki kandungan B3 ( Bahan
beracun dan berbahaya).
3.2
Hasil dan Pembahasan
Teknologi daur ulang skrap
besi/baja
Skrap
besi/baja umumnya telah tercampur dengan logam lain saat proses daur ulang
karena sulit dipisahkan. Ditambah lagi, banyaknya penggunakan pelapisan pada
baja oleh Cr, Ni, Zn, Al, dan lain-lain untuk memenuhi suatu fungsi tertentu;
seperti ketahanan korosi, keindahan, dan lain sebaginya. Penambahan Pb
dilakukan untuk memperbaiki sifat permesinannya. Pada baja yang diperkuat,
sering ditambahkan unsur-unsur lain seperti Ti, Cr, Ni, Co, V, dan W. Sementara
itu, teknologi pengeliminasi unsur-unsur pengotor ini masih belum banyak
diketahui, sehingga baja atau besi cor yang dihasilkan kurang memenuhi standar
yang diharapkan. Misalnya keberadaaan Al dan Zn yang tidak terkontrol dapat
menimbulkan pin holeyang sangat merusak hasil cor. Keberadaan Cu akan
mengakibatkan hasil cor pecah atau menimbulkan crack pada permukaan baja yang
mengalami perlakuan panas karena perbedaan titik leleh Cu dengan baja.
Pengeliminasian unsur-unsur
pengotor dengan metoda bubbling (meniupkan udara dalam cairan logam) telah lama
diketahui. Dengan bubbling udara atau O2, unsur-unsur yang memiliki kemampuan
oksidasi diatas FeO seperti Si, Mn, B, Al lebih mudah dihilangkan daripada
unsur-unsur yang memiliki kemampuan oksidasi di bawahnya seperti Pb, Cu, Ni,
dan Co.
Pemurnian
Zn, unsur Zn mudah hilang dengan penguapan, sedangkan Al dapat dipisahkan
dengan efektif melalui oksidasi dengan O2. Pengoptimalan bubbling akan
meningkatkan kecepatan pembersihan Zn, dan pengecilan gelembung-gelembung udara
bubbling akan mempercepat proses oksidasi pada pembersihan Al. Namun demikian,
di samping waktu prosesnya yang lama, metoda ini hanya dapat mengeliminasi
unsur-unsur tertentu saja tergantung sifat reaksi dan berat jenis masing-masing
unsur.
Metoda lain yang dikembangkan
yaitu dengan compound separation (pemisahan pengotor dengan membuat paduan yang
berbeda berat jenis). Perusahaan Kobe Steel Jepang telah mencoba mengeliminasi
Pb dari kuningan dengan menambahkan Ca dan penyaringan, sedang cara teknisnya
telah dipatenkan di Japan Paten. Namun demikian, pengeliminasian Pb tersebut
kurang efektif karena keberadaan pengotor Pb yang berukuran kecil dan menyebar
di dalam cairan.
Kelompok
peneletian penulis telah berhasil mengoptimalkan pengeliminasian Pb dari paduan
tembaga dengan menambahkana aggregation agents (pengikat unsur pengotor) Ca-Si
dan NaF. Sedangkan mekanisme pengeliminasian Pb dari paduan tembaga tersebut
telah ditemukan secara sederhana dengan mendasarkan pada energi Gibb’s. Teknik
tersebut telah dipatenkan di Japan Paten dan sedang diuji dalam sekala
industri. Prinsip dasar proses eliminasi pengotor pada paduan tembaga tidak
berbeda dengan pada baja. Untuk itu, proses yang telah dikembangkan pada paduan
tembaga diyakinkan dapat diterapkan juga pada baja.
Pada
baja, unsur-unsur pengotor tertentu dapat dieliminasi dengan mudah dengan
penambahan SiO2 dan CaO. Namun, mekanisme pengeliminasiannya masih belum banyak
diketahui. Ditambah lagi unsur-unsur pengotor seperti Co, Ni, Cu, Sn dan Pb
masih belum bisa dieliminasi dan menjadi masalah utama pada proses pengecoran
baja dan besi cor. Jika dapat ditemukan dan dihitung energi Gibb’s reaksi
masing-masing unsur pengotor dengan aggregation agents-nya, maka mekanisme
pengeliminasian unsur-unsur pengotor dapat disimulasikan.
Risiko kesehatan akibat limbah B3
Paparan limbah B3 berisiko bagi
lingkungan dan kesehatan manusia. Di lingkungan, kontaminasi merkuri, misalnya,
bisa tertransportasi ke tubuh manusia secara langsung ataupun tidak. "Jika
akumulasi berlebih di tubuh manusia, saraf dan otak bisa terganggu," kata
Masnellyarti. Akumulasi merkuri ke dalam tubuh manusia di antaranya
melalui rantai makanan, seperti pada hewan-hewan laut. Sementara kandungan timbal berlebih di alam akan
mengganggu kualitas air dan udara. Kadar timbal berlebih dalam darah manusia di
antaranya menyebabkan gangguan kecerdasan dan secara langsung memengaruhi
tinggi badan seseorang.
Pada kasus impor limbah B3, limbah yang sering kali dijumpai adalah sirkuit elektronik, seperti PCB. Di lingkungan industri, PCB relatif mudah dijumpai teronggok di tanah. Secara langsung, pembakaran PCB bisa menghasilkan dioksin yang mengganggu pernapasan. Secara perlahan, material dalam PCB yang terurai dan terakumulasi bisa bersifat karsinogen atau memicu kanker. Menurut Masnellyarti, masih banyak jenis limbah beracun dan berbahaya yang harus dikelola secara benar. Persoalannya, karena dampaknya yang kadangkala perlahan-lahan, masyarakat tidak menyadari bahwa penyakit tertentu yang mereka alami terkait dengan keberadaan limbah di sekitar mereka. Mempertimbangkan dampak serius limbah B3 di dunia, maka disepakati keberadaan Konvensi Basel. Konvensi tersebut merupakan perjanjian internasional yang mengatur perpindahan limbah B3 antarnegara. Proses dan pelaksanaan reekspor limbah B3, seperti yang sudah dan sedang dilakukan pemerintah saat ini, terikat dengan Konvensi Basel itu.
Pada kasus impor limbah B3, limbah yang sering kali dijumpai adalah sirkuit elektronik, seperti PCB. Di lingkungan industri, PCB relatif mudah dijumpai teronggok di tanah. Secara langsung, pembakaran PCB bisa menghasilkan dioksin yang mengganggu pernapasan. Secara perlahan, material dalam PCB yang terurai dan terakumulasi bisa bersifat karsinogen atau memicu kanker. Menurut Masnellyarti, masih banyak jenis limbah beracun dan berbahaya yang harus dikelola secara benar. Persoalannya, karena dampaknya yang kadangkala perlahan-lahan, masyarakat tidak menyadari bahwa penyakit tertentu yang mereka alami terkait dengan keberadaan limbah di sekitar mereka. Mempertimbangkan dampak serius limbah B3 di dunia, maka disepakati keberadaan Konvensi Basel. Konvensi tersebut merupakan perjanjian internasional yang mengatur perpindahan limbah B3 antarnegara. Proses dan pelaksanaan reekspor limbah B3, seperti yang sudah dan sedang dilakukan pemerintah saat ini, terikat dengan Konvensi Basel itu.
Aplikasi teknologi daur ulang
baja
Permasalahan
utama pengolahan bijih besi lokal ialah kandungan pengotor seperti Ti dan V
pada pasir besi yang berjumlah 170 juta ton, berada di sepanjang pantai pulau
Jawa. Ti dapat mengendap dan menempel di dinding tungku terlebih dahulu saat
proses reduksi, sehingga mengganggu proses pengecoran dan memperburuk aliran
cairan besi. Sementara itu, bijih besi laterit yang berjumlah sekitar 1 milyar
banyak mengandung Ni dan Co. Keberadaan Ni, Co dan Cr pada baja dapat
meningkatkan kekerasannya. Namun, keberadaannya dengan kadar berlebih dapat menyebabkan
kesulitan untuk membuat produk baja yang berbentuk lempengan.
Dengan
kombinasi metoda bubbling dan compound separation, diyakinkan bahwa unsur-unsur
pengotor tersebut dapat dimurnikan. Pilihan aggregation agents yang tepat dari
mineral alam yang ada di Indonesia menjadi kunci solusi pengolahan bijih besi
mandiri dari bahan baku lokal. Pengolahan bijih besi mandiri akan dapat
menyajikan pasokan bahan baku baja untuk industri nasional selama lebih dari
100 tahun.
Menyelamatkan industri baja nasional
Menyongsong
negara berbasis industri, Indonesia harus memiliki pasokan bahan baku baja
mandiri. Indonesia tidak boleh tergantung kepada negara lain yang labil karena
diperebutkan oleh negara-negara yang lebih maju dengan konsumsi yang jauh lebih
besar. Harga bahan baku baja akan mudah disetir dan sangat merugikan. Program
penyelamatan industri baja nasional melalui pengolahan bijih besi mandiri harus
segera digulirkan kalau tidak ingin menemui kebangkrutan. Untuk mewujudkan
program tersebut, berikut akan diuraikan peran masing-masing elemen yang
terkait.
Pemerintah,
pemerintah harus dapat membuat kebijakan yang mengatur dan mengontrol
terlaksananya program pengolahan bijih besi mandiri. Dana-dana harus
diprioritaskan untuk tujuan tersebut di samping harus selalu mendorong elemen
lain untuk bekerja keras mensukseskan program tersebut. Nilai ekonomi pasokan
baja nasional (5-6 juta ton) melebihi 30 trilyun pertahun dan akan semakin
meningkat seiring dengan kemajuan industri. Sementara itu, dana yang berkaitan
dengan riset untuk pengembangan teknologi pengolahan bijih besi mandiri sangat
sedikit bahkan cenderung tidak ada. Para peneliti di pusat-pusat penelitian
harus bersaing untuk mendapatkan dana riset yang tersedia untuk pengembangan
teknologi pengolahan bijih besi lokal karena tidak adanya prioritas yang
mendukung program tersebut.
Lembaga penelitian,
sebagian besar lembaga penelitian yang mengembangkan riset di bidang pengolahan
bijih besi sendiri-sendiri dan kurang melakukan koordinasi dengan lembaga lain
atau dengan industri terkait. Walhasil, teknologi yang dikembangkan tidak
bersifat integrated (menyeluruh) dan hasilnya masih belum bisa diterapkan ke
industri terkait. Tidak terfokus dan terpusatnya program dan lokasi pengolahan
bijih besi, semakin menjauhkan dari tujuan dan harapan yang diinginkan. Oleh
karenanya, lembaga-lembaga yang memiliki fasilitas dan SDM serta fungsi yang
berkaitan dengan perbajaan harus bersama-sama dan bekerja sama memprioritaskan
riset dan dananya untuk tujuan membuat riset terpadu guna membangun pengolahan
bijih besi mandiri.
Peneliti, peneliti
merupakan elemen kunci bagi pengembangan teknologi pengolahan bijih besi. Bahan
baku lokal, seperti laterit dan pasir besi yang memiliki sifat-sifat unik
(banyak pengotor Ti, V, Ni, Co, dan lain-lain) perlu diolah dengan teknologi
tertentu. Para peneliti terkadang masih bersifat individual, dalam artian
kurang bisa bekerja sama dengan peneliti di lembaga lain. Padahal teknologi
yang telah dikuasainya masih harus digabung atau diintegrasikan dengan
teknologi lain agar dapat menghasilkan sesuatu yang diinginkan. Keterbatasan
dana penelitian juga masih menjadi faktor dominan para peneliti untuk tidak
kreatif berkarya. Selain itu arahan masing-masing lembaga kepada para peneliti
harus sering diberikan.
Industri, industri
adalah pelaku utama yang menjembatani temuan-temuan teknologi para peneliti
kepada pemenuhan kebutuhan masyarakat. Atau dengan kata lain, industri berperan
mengubah engineering frontier (teknologi yang tersedia di laboratotium) menjadi
economic knowledge (teknologi bernilai ekonomi) dalam bentuk produk. Untuk
membuat produk, industri akan menyedot tenaga kerja, yang pada akhirnya dapat
meningkatkan perekonomian masyarakat. Jadi, industrilah yang berperan langsung
meningkatkan taraf hidup masyarakat. Namun, ketika produk tidak berkualitas
atau tidak memenuhi standar di pasar, maka industri akan menerima kerugian.
Untuk dapat memenangkan persaingan, industri harus selalu menjaga kualitas
produknya dengan selalu meningkatkan R&D dengan menjalin kerja sama dengan
peneliti di lembaga penelitian.
Sebagian
besar industri nasional dalam sektor riil berkaitan erat dengan perbajaan.
Hampir seluruh peralatan produksi dan transportasi didominasi dengan baja.
Tersendatnya pengadaan peralatan industri karena krisis baja dan harga yang
mahal akan menurunkan kinerja proses produksi. Industri-industri yang berkaitan
langsung dengan perbajaan, misalnya industri pengecoran, otomotif, peralatan
pertanian, dan lain-lain harus mau berhimpun dan ikut berperan serta mendukung
program pengolahan bijih besi mandiri. Di samping menjalin mitra kerjasama
dengan sesama industri, mereka juga harus mau menjadi mitra lembaga penelitian
dalam pengembangan riset baja melalui pemberian informasi permasalahan teknologi
yang sedang dihadapi. Industri juga diharapkan siap membantu memasarkan hasil
riset peneliti yang menunjang peningkatan kualitas produksinya.
Oleh
karenanya penguasaan teknologi pemurnian skrap baja harus dibarengi dengan
sebuah tim pemerintah-lembaga penelitian-industri yang solid untuk bisa
menyelamatkan perekonomian bangsa ini dan mengurangi dampak yang diakibatkan
oleh limbah baja bekas yang mengandung B3.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Bagi Indonesia, kondisi industri berbasis
baja dan besi cor semakin menyedihkan. Pasokan bahan baku baja yang menipis dan
tingginya harga telah menghancurkan ratusan industri kecil pengecoran di Ceper
dan sekitarnya. Bahan baku skrap besi dan baja yang jumlahnya lumayan banyak,
tidak bisa digunakan begitu saja karena kandungan pengotor yang ada di
dalamnya. Pengotor ini akan menurunkan kualitas produk akhir. Sementara itu,
teknologi pemurnian juga masih belum dikembangkan. Tidak hanya itu, teknologi
ini juga dapat memecahkan permasalahan pemurnian skrap baja di dunia, dan juga
mampu mengurangi limbah baja bekas yang berserakan yang akan mengakibatkan
dampak pada tanah dan air, sedangkan limbah baja bekas memiliki kandungan B3 (
Bahan beracun dan berbahaya).
Dengan
kombinasi metoda bubbling dan compound separation, diyakinkan bahwa unsur-unsur
pengotor tersebut dapat dimurnikan. Pilihan aggregation agents yang tepat dari
mineral alam yang ada di Indonesia menjadi kunci solusi pengolahan bijih besi
mandiri dari bahan baku lokal. Pengolahan bijih besi mandiri akan dapat
menyajikan pasokan bahan baku baja untuk industri nasional selama lebih dari
100 tahun dan dapat mengurangi akibat limbah baja bekas yang dihasilkan. Untuk
mewujudkan program tersebut, berikut akan diuraikan peran masing-masing elemen
yang terkai, pemerintah, pembaga penelitian, peneliti, dan industri.
4.2 Saran
Saran diperlukan sebagai bahan untuk perbaikan
terhadap Laporan Penelitian yang dibuat ini agar dapat dijadikan patokan untuk
pembelajaran yang lebih baik lagi. Berikut ialah saran yang diberikan dalam
laporan penelitian diantaranya, Peneliti harus lebih teliti terhadap metode
yang dipilih berdasarkan permasalahan yang dialami Indonesia saat ini. Peneliti
harus membutuhkan data yang lebih banyak sebagai referensi yang mendukung
pembahasan yang akan diberikan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous.” Ribuan
Ton Limbah Berisiko”. 19 Januari 2017. http://www.kemenperin.go.id/artikel/3185/Ribuan-Ton-LimbahBerisiko
Anonymous.”Pengertian
Daur Ulang dan Contohnya”. 19 Januari 2017. http://www.pengertianmenurutparaahli.net/pengertian-daur-ulang-dan-contohnya/
Ardhian Miftah. “Pemerintah Cari Solusi 4 Masalah Industri untuk Gerakkan
Ekonomi”. 18 Januari 2017. http://katadata.co.id/berita/2016/08/29/pemerintah-cari-solusi-4-masalah-industri-untuk-gerakkan-ekonomi
Hadi.
“Klasifikasi Bahan Teknik”. 18 januari 2017. http://hadi-creation.blogspot.co.id/p/klasifikasi-bahan-teknik.html
Pradana
Adhi. “Limbah Industri”. 18 Januari 2017.
http://zanxadhysblog.blogspot.co.id/2011/11/limbah-industri.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar