Selasa, 29 Desember 2015

ISD: Pembenahan Pasar Tradisional dalam Persaingan Global

Pembenahan Pasar Tradisional dalam Persaingan Global

Pendahuluan
Di Indonesia, supermarket lokal telah ada sejak 1970-an, meskipun masih terkonsentrasi di kota-kota besar. Supermarket bermerek asing mulai masuk ke Indonesia pada akhir 1990-an semenjak kebijakan investasi asing langsung dalam sektor usaha ritel dibuka pada 1998. Meningkatnya persaingan telah mendorong kemunculan supermarket di kota-kota  kecil dalam rangka  mencari pelanggan baru dan terjadi perang harga. Akibatnya pasar tradisional yang berada di kota besar maupun kecil kalah saing dan dengan tingkat peminat yang jauh dengan pasar modern atau supermarket. Pasar tradisional yang sebagian besar penjualnya adalah kalangan bawah mengalami pendapatan yang merosot. Persaingan pasar tradisional dengan modern ini bukan lagi dihadapkan dengan persaingan local tetapi sudah menjadi persaingan global. Pasar tradisional bersaing dengan perdagangan asing yang diwujudkan dalam pasar modern atau yang kita sebut dengan supermarket. Dengan masalah tersebut saya tertarik untuk membahas mengenai pembenahan pasar tradisional dalam persaingan global.
Perbedaan Pasar Tradisional dan Pasar Modern
Pasar tradisonal adalah tempat yang mempunyai unsur-unsur sosial, ekonomis, kebudayaan, politis yang juga dipergunakan sebagai sarana pembeli dan penjual untuk saling bertemu dan melakukan kegiatan tukar-menukar. Harga dipasar tradisional ini mempunyai sifat yang tidak pasti , oleh karena itu bisa dilakukan tawar menawar. Barang yang dijual dipasar tradisional umumnya barang-barang lokal dan ditinjau dari segi kualitas dan kuantitas, barang yang dijual di pasar tradisional dapat terjadi tanpa melalui penyortiran yang kurang ketat. Dari segi kuantitas, jumlah barang yang disediakan tidak terlalu banyak sehingga apabila ada barang yang dicari tidak ditemukan di satu kios tertentu, maka dapat dicari ke kios lain. Rantai distribusi pada pasar tradisional terdiri dari produsen, distributor, sub distributor, pengecer, konsumen. Pasar tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh Pemerintah. Daerah, Swasta, Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah, termasuk kerjasama  swasta dengan tempat usaha berupa toko, kios, los dan tenda yang dimiliki/ dikelola oleh pedagang kecil, menengah, swadaya masyarakat atau koperasi dengan usaha skala kecil, modal kecil dan dengan proses jual beli barang dagangan melalui tawar-menawar (Pepres RI No. 112, 2007).
Pasar modern adalah pasar yang dikelola dengan manajemen modern, umumnya terdapat diperkotaan, sebagai penyedia barang dan jasa dengan mutu dan pelayanan yang baik kepada konsumen yang pada umumnya anggota masyarakat kelas menengah keatas. Pasar modern antara lain mall, supermarket, department store, shopping centre, waralaba, toko mini swalayan, pasar serba ada, toko serba ada dan sebagainya. Barang yang dijual disini memiliki variasi jenis yang beragam. Selain menyediakan barang lokal, pasar modern juga menyediakan barang impor. Barang yang dijual mempunyai kualitas yang relatif lebih terjamin karena melalui penyeleksian yang ketat sehingga barang yang tidak memenuhi persyaratan klasifikasi akan di tolak. Dari segi kuantitas, pasar modern umumnya mempunyai persediaan barang di gudang yang terukur. Dari segi harga, pasar modern memiliki label harga yang pasti. Rantai distribusi pada pasar ini adalah produsen – distributor – pengecer/konsumen.
Dalam pasar modern penjual dan pembeli tidak bertransaksi secara langsung.
Persaingan Pasar Tradisional dan Pasar Modern
Di Indonesia pangsa pasar dan kinerja usaha pasar tradisional menurun, sementara pada saat yang sama pasar modern mengalami peningkatan setiap tahunnya. Tabel: Kontribusi pasar tradisional dan pasar modern dalam memenuhi kebutuhan pasar :
Tahun
Pasar Tradisional (%)
Pasar Modern (%)
Permintaan Pasar
2000
78,1
21,9
100
2001
75,2
24,8
100
2002
74,8
25,2
100
2003
73,7
26,3
100
2004
69,9
30,1
100
Sumber: Penelitian Lembaga AC.Nielsen (2007)
Kondisi pasar tradisional pada umumnya memprihatinkan. Banyak pasar tradisional yang tidak terawat sehingga dengan berbagai kelebihan yang ditawarkan oleh pasar modern kini pasar tradisional terancam oleh keberadaan pasar modern. Faktor desain dan tampilan pasar, atmosfir, tata ruang, tata letak, keragaman dan kualitas barang, promosi pengeluaran, jam operasional  pasar yang terbatas, serta optimalisasi pemanfaatan ruang jual merupakan kelemahan terbesar pasar tradisional dalam menghadapi persaingan dengan pasar modern.
Wiboonpongse dan Sriboonchhitta mengemukakan minat masyarakat berkurang untuk berbelanja di pasar tradisional disebabkan kurang berkembangnya pasar tradisional dan juga dipengaruhi oleh minimnya daya dukung karakteristik pedagang tradisional. Hasil penelitian paesoro (2007) menyimpulkan penyebab utama kalah bersaingnya pasar tradisional, bukan semata-mata karena keberadaan supermarket tetapi karena lemahnya manajemen dan buruknya infrasruktur pasar tradisional. Supermarket sebenarnya mengambil keuntungan dari kondisi buruk yang ada di pasar tradisional.
Diantara berbagai kelemahan yang telah disebutkaan diatas, pasar tradisional juga memiliki beberapa potensi kekuatan, terutama kekuatan sosio emosional yang tidak dimiliki oleh pasar Modern. Kekuatan pasar tradisional dapat dilihat dari beberapa aspek . Aspek-aspek tersebut diantaranya harganya yang relatif lebih murah dan bisa ditawar, dekat dengan pemukiman, dan memberikan banyak pilihan produk segar. Kelebihan lainnya adalah pengalaman berbelanja memegang langsung produk yang umumnya masih sangat segar. Akan tetapi dengan adanya hal tersebut bukan berarti pasar tradisional bukan tanpa kelemahan. Selama ini justru pasar tradisional lebih dikenal memiliki banyak kelemahan, antara lain kesan bahwa pasar terlihat becek, kotor, bau, dan terlalu padat lalu lintas pembelinya. Ditambah lagi ancaman bahwa keadaan sosial masyarakat yang berubah, dimana wanita diperkotaan umumnya berkarier sehingga hampir tidak mempunyai waktu untuk berbelanja ke pasar tradisional (Esther dan Dikdik, 2003).
Perubahan gaya hidup konsumen dalam perilaku membeli barang ritel diantaranya dipengaruhi oleh kemudahan dan penjaminan mutu dari pasar modern, diantaranya: Pertama melalui skala ekonominya, pasar modern dapat menjual lebih banyak produk yang lebih berkualitas dengan harga yang lebih murah. Kedua, informasi daftar harga setiap barang tersedia dan dengan mudah diakses publik. Ketiga, pasar modern menyediakan lingkungan berbelanja yang lebih nyaman dan bersih, dengan jam buka yang lebih panjang, dan menawarkan aneka pilihan pembayaran seperti kartu kredit untuk peralatan rumah tangga berukuran besar. Keempat, produk yang di jual dipasar modern, seperti bahan pangan, telah melalui pengawasan mutu dan tidak akan dijual bila telah kadaluwarsa (Setiadi N, 2003).
Pertahanan Pasar Tradisional
Pasar tradisional selalu menjadi indikator nasional dalam stabilitas pangan seperti beras, gula, dan sembilan kebutuhan pokok lainnya. Kelangkaan beras di pasar misalnya, menyebabkan pemerintah kalang-kabut dan dapat menjadi ukuran kinerja para menteri bidang ekonomi.
Melihat fungsi dan peran pasar tradisional yang strategis dalam peningkatan pendapatan dan penyerapan tenaga kerja, maka dalam pembangunan sector perdagangan merupakan salah satu program prioritas yang telah dikembangkan mulai tahun 2004-2009 merupakan Program Peningkatan Efisiensi Perdagangan Dalam Negeri.
Program tersebut secara simultan dan sinergis akan terus dikembangkan untuk memperkuat pasar dalam negeri melalui pemantapan suplai serta menjaga kelancaran dan efisiensi distribusi barang kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah tanah air.
Dibalik peran pasar tardisional yang strategis tersebut diperlukan upaya-upaya dalam rangka meningkatkan  daya saing pasar tradisional yang identik dengan sebuah lokasi perdagangan yang kumuh, semrawut, kotor dan merupakan sumber kemacetan lalu lintas.
Solusi dalam Persaingan Pasar
Berdasarkan permasalahan diatas mengenai persaingan pasar tradisional yang semakin melemah, saya akan mengangkat tema mengenai solusi pembenahan pasar tradisional dalam persaingan global.
Begitu pentingnya fungsi pasar terhadap perkembangan suatu daerah terutama di bidang perekonomian, maka Pemerintah Daerah sebagai pengambil kebijakan harus melakukan kajian mendalam bagaimana potensi pasar yang ada dengan memanfaatkan Anggaran Pendapatan Daerah (APBD) atau dengan membuka peluang investasi seluasluasnya kepada investor agar dapat berinvestasi khususnya dalam bidang pengembangan infrastruktur terutama Pasar Tradisional Modern sebagai salah satu tulang punggung perekonomian masyarakat.
Dalam mempertahankan pasar tradisional kita tarik garis besar bahwa permasalahan yang terdapat dalam pasar tradisional yaitu lemahnya manajemen dan buruknya infrasruktur pasar tradisional.
Ø  Infrastruktur pasar
Untuk membenahi hal tersebut hal yang perlu diperbaiki yaitu infrastruktur pasar itu sendiri. Dalam konsep prefensi konsumen kepuasan mereka ketika suasana berbelanja terasa nyaman harga tidak menjadi permasalahan yang utama. dari konsep tersebut kita harus membuat suasana belanja di pasar tradisional yang nyaman seperti halnya di swalayan. Dengan keadaan pasar tradisional yang biasanya terlihat becek, kotor, bau, dan terlalu padat lalu lintas pembelinya. Saya membuat suatu inovasi merubah image pasar tradisional dengan memindahkan tempat jual beli dalam suatu ruangan besar yang tertata dan bersih dengan letak pengelompokkan barang, sandang, pangan berdasarkan jenisnya masing-masing seperti halnya dengan swalayan pada umumnya, hanya saja setiap barang pada kios tersebut dilayani oleh pemiliknya jadi tetap kegiatan tawar menawar pun terjadi. Terdapat ruang lintasan pembeli yang cukup luas dan bersih. Barang yang dijual pun teratata rapi dengan kondisi yang baik dan melewati pengecekan kualitas, sehingga kecil kemungkinan barang yang busuk ataupun kadaluarsa terjual. Berbeda halnya dengan bagian daging maupun ikan segar disediakan freezer atau alat pendingin agar awet dan tidak timbulnya bau, dan untuk ikan disediakan pula seperti kolam kecil dalam aquarium. Dan terdapat pula petugas kebersihan untuk memastikan pasar menjadi bersih dan nyaman, keuntungannya membuka lapangan pekerjaan. Terdapat pula toilet dengan keadaan bersih, serta ruang kepala bagian pasar. Sediakan pula lahan parkiran. Dengan infrastruktrur tersebut sedikitnya bisa bersaing dengan pasar modern pada umumnya, dan dapat menarik pembeli yang berkalangan atas dan berkalangan menengah maupun bawah tetap dapat melakukan aktifitas jual beli dengan kondisi nyaman. Untuk membuat sebuah gedung dan banunan lain perlu dilakukan pematangan tanah, gedung pasar, gudang, pagar, selokan, jalan, tempat parker, penerangan, instalasi untuk menetralkan limbah dan sebagainya.
Lokasi yang tepat untuk permulaan proyek tersebut yaitu berada di kawasan kota, dengan intensitas penduduk yang banyak, serta pendapatan perkapita yang cukup  besar jika dibandingkan dengan dikawasan jauh dari perkotaan menjadi faktor utama dari proyek tersebut, dengan penduduk yang banyak dapat menarik konsumen yang berbelanja di pasar tradisional semakin banyak, dan masyarakat kota memilki mindset bahwa kenyaman dalam berbelanja itu penting.
Lahan dan bangunan untuk proses pembuatan proyek dikota dapat mengahabiskan modal yang cukup banyak tetapi dengan kelebihan tersebut diharapkan proyek tersebut dapat berjalan. Sesungguhnya, pola pemanfaatan lahan tidak bersifat statis, dan selalu dinamis sesuai dengan perubahan fungsi permintaan dan penawaran lahan. Perubahan penduduk perkotaan, pendapatan perkapita, dan teknologi dapat mempengaruhi perubahan permintaan dan penawaran lahan, dan selanjutnya akan merubah pola pemanfaatan lahan perkotaan itu sediri. Dengan adanya perubahan-perubahan ini maka pemilihan lokasi industri harus mengikuti pola pemanfaatan lahan yang berlaku dalam sistem perkotaan tersebut, pada umumnya, pemerintahan daerah yang bersangkutan telah membuat rencana tata ruang pemanfaatan lahan sesuai dengan fungsinya.  
Ø  Pengelolaan Manajemen Pasar
Perlu dilakukan dalam pembenahan pasar tradisional dengan adanya proyek tersebut diharapkan dapat membenahi pasar tradisional. Hal yang pertama perlu dilakukan yaitu mencari adanya investor untuk membangun proyek dengan adanya peranan dari pemerintah. Sudah menjadi kenyataan yang sukar untk dibantah, tidak smua proyek yang dibangun, baik oleh pihak swasta maupun pemerintah, Dapat mencapai hasil seperi yang diharapkan semula. Maka itu, perlu diadakan adanya evaluasi proyek dan rencana investasi yang akan memberikan gambaran seberapa jauh rencana investasi pda suatu proyek tertentu dapat dipertanggungjawabkan dari berbagai macam segi. Secara professional evaluasi proyek dapat dilakukan dalam dua tahap yaitu (1) Evaluasi pendahuluan (2) Studi kelayakan proyek. Evaluasi tahap kedua memakan waktu yang cukup lama, serta tenaga ahli dan biaya yang cukup besar, apalagi bilamana yang dievaluasi adalah proyek besar. Seyogyanya studi kelayakan proyek yang direncanakan hanya dilakukan apabila dari hasil evaluasi pendahuluan diperoleh gambaran bahwa gagasan untuk mendirikan cukup berbobot untuk diteliti secara lebih terperinci dan mendalam.
Setelah dilakukannya proyek pasar tradisional modern ini perlu adanya manajemen yang baik agar dapat melakukan pertahanan terhadap pasar tradisional modern ini berjalan lancar dan dilakukan dalam jangka panjang. Melakukan pembinaan terhadap pedagang, menciptakan kondisi pasar yang kondusif dan layak untuk berusaha serta mengupayakan kelancaran distribusi barang sehingga tercipta kestabilan harga barang. Pengelola pasar harus memahami tugas dan fungsinya sebagai pengelola. Orientasi pemerintah daerah masih lebih cenderung pada peningkatan PAD dari pada peningkatan pelayanan kepada masayarakat. Jelas dan pahamnya SOP (Standard Operation Procedure) dimana kinerjanya dapat diukur yang tertuang didalam SOP, namun saat ini SOP Pasar Tradisional dan implementasinya di lapangan belum mencerminkan diterapkannya manajemen yang baik dan benar sehingga masih terjadi banyak salah kelola dan pelanggaran tanpa adanya sanksi yang tegas. Manajemen Keuangan Yang Akuntabel dan Transparan. Pemeliharaan sarana Fisik, dengan fisik yang baru diharapkan pasar tradisional modern tidak menjadi kumuh seperti semula, dengan dipekerjakannya petugas kebersihan atas kesepakatan bersama dari semua penjual pasar tradisional modern ini dengan kepala bagian pengurus pasar menjadikan pasar tetap bersih dan indah dengan semestinya. Pedagang Kaki Lima harus Tertib dan layak. Pedagang Kaki lima sangat memerlukan tempat untuk menjajakan dagangannya. Mereka selalu mencari tempat yang ramai dikunjungi pembeli. Premanisme hal ini juga merupakan ciri pasar tradisional yang sangat mengganggu kelancaran dan efisiensi transaksi antara pembeli dan penjual, dengan lingkungan yang tertutup dan dipekerjakan pula security dapat membantu pengurangan premanisme. Adanya Pengawasan Terhadap barang yang dijual dan Standarisasi Ukuran serta timbangan dan kualitas agar tidak terjadi kebusukan dan kadaluawarsa terjual. Pengelola pasar harus melakukan koordinasi dengan pihak yang berkompeten untuk melaksanakan pengawasan secara rutin demi melindungi kepentingan konsumen. Fasilitas Umum, Parkir, Toilet yang bersih, pembuangan sampah dan limbah yang teratur juga merupakan hal penting bagi pengelola pasar untuk mengembangkan pasar tradisioanl (not just natural but clean). Penataan Los/Kios/Lapak yang beraturan. Adanya kemampuan dan ketegasan oleh manajemen pasar dalam mengatur kios dan lapak secara baik dan rapi. Dalam hal ini pengelola pasar harus tegas mana yang memang peruntukkannya mana yang tidak sehingga bagi yang melanggar dapat dikenakan sanksi. Adanya Asosiasi Pengelola Pasar Tradisional yaitu  Adanya perhimpunan pengelola pasar ini diharapkan mampu memberikan solusi, alternatif  jalan keluar serta kebersamaan dalam menentukan sikap dan arah agar pasar tradisional tetap eksis dan berkembang menjadi pasar tradisional modern yang kokoh dan berdaya saing global. Adanya sikap mental kewirausahaan bagi pengelola pasar dan manajemen seperti halnya melalui pendidikan formal, seminar-seminar kewirausahaan, Training dan Practising baik indoor maupun outdoor, Otodidak, Komitmen Pribadi, Lingkungan dan Pergaulan yang kondusif. Dari kesemua itu diharapkan mampu menggali seluruh potensi pendapatan yang dimiliki ssehingga mampu meningkatkan kontribusi di masa yang akan datang.

Daftar Pustaka
Anonymous. Revitalisasi Pasar. Diambil dari: http://pasartradisional.balidenpasartrading.com/index.php?r=statispage/view&id=2 ( 27 Desember 2015)
Ketut Ayuningsasi, Agung. 2013. Analisis Faktor Penentu Referensi Konsumsi dalam Berbelanja ke Pasar Tradisional Di Kota Denpasar: Analisis Faktor. Jurnal Ekonomi Kuantitatif Terapan Vo. 6 N0. 1 Februari 2013. Diambil dari: http://download.portalgaruda.org/article.php?article=14230&val=953 ( 27 Desember 2015)
Mister Admin. 2011. Eksistensi Pasar Tradisional Ditengah Pesona Pasar Modern. 14 Juni 2011. Diambil dari: http://litbang.patikab.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=108:eksistensi-pasar-tradisional-ditengah-pesona-pasar-modern&catid=121:eksistensi-pasar-tradisional-ditengah-pesona-pasar-modern&Itemid=60 ( 27 desember 2015 )
Sihotang, Ronald, Syaad afifudin, rahmanta. 2014 . Pengaruh Pasar Modern terhadap Pedagang Pasar Tradisional dan Masyarakat dalam Pengembangan Wilayah di Kecamatan Medan Area. Jurnal Ekonom, Vol 17, No 4, Oktober 2014. Diambil dari: http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/43581/1/ronald%20syaad%20rahmanta.pdf (27 Desember 2015)
Sitorus, Parlin.1997. Teori Lokasi Industri. Jakarta: Universitas Trisakti
Sri Rahayu, Yenika. Tanpa Tahun. Strategi Pedagang Pasar Tradisional Menghadapi Persaingan dengan Retain Modern dan Prefensi Konsumen. Jurnal Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Diambil dari: jimfeb.ub.ac.id/index.php/jimfeb/article/download/273/221 (27 Desember 2015)
Sutojo, Siswanto. 1996. Studi Kelayakn Proyek. Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo
Wicaksono, N Lulud, Priyatno Harsasto, Puji Astuti. Tanpa Tahun. Presepsi Pedagang Pasar terhadap Program Perindungan Pasar Tradisional oleh Pemerintah Kota Semarang. Jurnal Penelitian. Diambil dari: http://download.portalgaruda.org/article.php?article=121417&val=4924 (27 Desember 2015)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar